rujakangkung

iklan

(Cerpen-Singkat) Judul: Saksi


(Cerpen-Singkat) Judul: Saksi


(Cerita Singkat) Judul: Saksi.

Semua orang tidak ada yang pernah tahu siapa aku. Atau mungkin saja mereka tidak pernah ingin tahu! Ini menyebabkan keberadaanku semakin nyaman, sebab segala sesuatu yang kuketahui tidak pernah ada yang menanyakan kepadaku.

Kematian di keluarga ini kerap menghantui. Jerit kesakitan, isak tertahan, teriakan histeris sudah kerap kukelabuhi, agar tidak begitu mencekam di keseharian yang terlalui. Sungguh ini sangat menyiksa, apalagi rumah ini sekarang kosong melompong sejak kejadian pembantaian penghuni rumah ini.

"Hei..., jadi aku ini siapa?"

"Apa iya aku penghuni rumah ini? Sebelum dan sesudah kejadian itu?"

Sia-sia juga aku bertanya, bukankah ini sudah kerap mengganggu tidurku. Pertanyaan yang justru membuat kepala ini pusing tujuh keliling! Jawaban kerap kali buntu, saat tanya tersebut mulai berlarian di kepala.

Aku juga merasa heran, kenapa tiba-tiba semua menjadi seperti ini. Yang kutahu adalah, tiba-tiba saja keluarga dan rumah ini menjadi sangat akrab denganku. Tanpa bisa kutahu asal - usulku sebelumnya!

Terakhir aku menangis saat kulihat kejadian pembantaian di rumah ini, di mana keberadaanku seperti tidak memiliki kekuasaan apapun. Tak memiliki kekuatan apapun untuk melakukan apa-apa, saat satu persatu keluarga ini meregang nyawa, sedangkan aku hanya bisa menangis menyaksikan apa yang terjadi di depan mataku! Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?

"Hei...! Apa ada yang bisa aku ajak bicara?!"

Suwung...

Hawa lembab di rumah itu sudah sangat terasa, apalagi sudah banyak genting yang pada pecah, alhasil air hujan dengan mudah masuk ke dalam rumah tersebut.

"Sebenarnya siapa aku?"

"Iya, ada apa?"

"Hei..., keluarlah! Ayo jawab pertanyaanku!"

Sosok yang mengeluarkan suara itu keluar dari dalam lemari usang di kamar tersebut, kamar yang sudah hampir dipenuhi oleh lumut, sebab kamar itu yang paling parah terkena bocoran air hujan.

"Kau sudah lama di dalam lemari itu?!"

"Iya, memang kenapa?"

"Lalu kenapa baru sekarang kau muncul?"

"Masalah buat kamu?"

"Iya, jelas itu masalah! Lantas apa kau juga melihat kejadian setahun yang lalu di rumah ini?!"

"Semua kulihat dengan jelas! Tapi apakah aku bisa berbuat? Sedangkan menyentuh saja aku tidak mampu!"

"Oke, oke! Tapi apakah kamu bisa jelaskan siapa sebenarnya aku?"

"Bisa!"

"Sungguh? Kalau begitu, ayo jelaskan siapa aku?!"

"Kamu-,"

"Ayolah...! Katakan saja!"

"Yakin kamu lupa siapa kamu?"

"Hei, kalau aku tahu siapa aku, buat apa pertanyaan yang tadi terucap! Dan untuk apa coba, jika aku tahu siapa diriku ini, lalu aku bertanya kepada orang yang baru kukenal!"

"Orang? Kamu masih menganggap kamu orang?"

"Maksudnya?"

"Jangan - jangan kamu juga lupa, jika kamu sudah tidak memiliki tubuh ya?"

"Kalau soal itu sih aku tahu!"

"Hmm..., syukurlah jika kamu tahu."

"Ayo dong katakan! Apa jangan - jangan keluarga di rumah ini adalah keluargaku?"

"Bukan! Kamu bukan siapa-siapa penghuni rumah ini."

"Lantas?"

Hening...

Ruangan itu sudah semakin pengap saja, maklum, semenjak kejadian itu, rumah tersebut menjadi suwung. Tidak ada satu orang pun yang berani masuk, bahkan banyak kabar terembus, jika rumah itu menjadi angker.

"Hei...! Kamu belum menjawab pertanyaanku!"

"Baiklah, saya akan coba jawab."

"Ayolah!"

"Jadi, kamu dulu adalah orang gila yang meninggal dan dimakamkan di atas rumah ini."

"Benarkah itu?!"

"Iya, apa untungnya aku berbohong!"

"Terus keluargaku? Apa mereka masih ada?"

"Mana aku tahu! Dulu ini tanah kosong, sebelum tanah ini dibeli dan dibangun oleh keluarga yang menjadi korban perampokan itu."

"Terus, siapa yang menguburkan aku?"

"Sudahlah, yang jelas kamu dimakamkan dengan baik, terus apalagi?!"

Hening...

Tak berapa lama, di luar rumah terdengar suara jeritan.

"Ada setaaaaaan...!"

Terdengar suara kaki yang lari menjauh dari rumah yang dianggap angker oleh warga sekitar rumah tersebut.

"Hentikan tangismu! Kamu menakuti orang - orang yang sedang lewat di sekitar rumah ini!"

Hening...


NB: ini hanya cerita fiktif belaka, dan jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat, ini benar-benar tidak disengaja.

Pic. Skitterphoto/pixbay.com




17/12/2018.

(Cerpen-Singkat) Martabak Di Atas Meja.


(Cerpen-Singkat) Martabak Di Atas Meja.


(Cerpen-Singkat)  Martabak Di Atas Meja.

"Jangan buang - buang makanan, Nak! Jika memang sudah kenyang, kamu bisa menyimpannya di lemari pendingin. Bukan kamu acak - acak seperti itu!"

"Kan kita bisa beli lagi, Ma!"

Anak itu memang begitu, ia kerap membuang makanan yang tidak habis disantapnya, meski sebenarnya masih bisa disimpan untuk nanti, atau diberikan kepada orang lain yang mungkin mau. Seperti kali ini, masih ada empat sisa martabak yang sebetulnya masih bisa disimpan, namun ia malah meremas - remasnya bersama kardus pembungkus martabak tersebut dan membuang di tempat sampah. Sungguh terlalu!

"Kamu tidak mengerti betapa susahnya cari uang, Nak! Sehingga dengan gampang melakukan itu!"

Mama tak kurangnya menasihati anaknya tersebut, namun entah kenapa tidak ada perubahan seperti yang diharapkan. Tidak mungkin juga kalau Mama harus memukul, karena baginya dengan memukul anak untuk mengganjar kesalahan itu tidaklah benar.

***

"Ampun, Mbok! Ampun...!"

Gadis kecil meraung kesakitan sambil menahan tangan Mbok - nya yang masih mencengkeram kuat telinganya. Sudah ada beberapa pukulan mendarat di pantat anak kecil itu, dengan sendal milik Si Mbok.

"Koe pancen susah dibilangi, Nduk!"

"Ampun, Mbok! Ampun...!"

Si Mbok menguatkan lagi cengkeraman di telinga gadis kecil yang masih menangis itu.

***

"Ya Tuhan..., ampuni hamba."

Airmata Mama muda itu mengalir, bayangan masa kecilnya tiba-tiba saja melintas di ingatan, masa kecil yang ia lalui dengan penuh kepahitan.

"Tahukah kamu, Nak? Mama pernah menangis soal makanan waktu kecil dulu. Mama dihajar sama Eyang Putri, gara-gara mengambil martabak manis sisa Tuan besar tempat Eyangmu bekerja."

"Kenapa Mama tidak minta saja!"

"Mama tidak berani untuk mengucapkan itu, awalnya Mama juga tidak ingin mengambil sepotong martabak manis di atas meja makan tersebut, namun karena Mama tidak pernah makan makanan semahal itu pada waktu Mama kecil dulu. Maka pada akhirnya Mama mengambil dan memakannya"

"Kenapa Eyang tidak membiarkan saja, Ma?"

"Tidak, Nak! Eyangmu benar! Sebab jika hal seperti itu dibiarkan, mungkin Mama akan menganggap jika milik orang lain boleh kita ambil tanpa permisi."

"Oh begitu ya, Ma?"

"Iya, memang seharusnya begitu. Kamu juga harus tahu, Nak. Jika apa yang Mama nasihatkan kepadamu, itu semua demi kebaikanmu, bukan demi apapun."

"Iya, Ma. Aku mengerti. Mulai sekarang kalau ada sisa makanan yang masih bisa dimakan, akan aku sisihkan saja untuk Didi teman mainku, Ma."

"Kalau bisa, memberi sesuatu itu yang bagus, Nak. Bukan sisa makanan yang telah kamu acak - acak seperti itu."

Ujar Mama sambil menunjuk sisa martabak manis yang sudah teremas - remas bersama kardus tempat martabaknya.

"Iya, Ma. Aku sudah tahu kok, dan aku mau mendengar apa kata Mama."

Hidup memang harus begitu, memberikan pelajaran tentang apa itu kebaikan, tentang mana yang hak dan mana yang bukan sedari anak - anak mulai tumbuh, sebab dengan begitu akan terbawa hingga kelak anak - anak itu tumbuh menjadi dewasa, dan menjalani kehidupan yang sesungguhnya.




16/12 /2018

RUJAK TEPLAK KULINER TEGAL ASLI

Namanya rujak teplak Memiliki bahan-bahan yang jelas banyak sekali mengandung unsur serat dan tentunya juga menyehatkan, karena tidak ...